Rabu, 19 Juni 2013

ISOLASI SOSIAL
MAKALAH
  Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Keperawatan Jiwa







                                                        Disusun Oleh :
                                       Ananda putry             044.143.11.00
                                       Deski Rismawan         044.143.11.004
                                       Fitri Susilowati           044.143.11.006
                                       Irma Rahmadaniah      044.143.11.008
                                                 


 AKADEMI KEPERAWATAN KEBONJATI BANDUNG
2013

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayahNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas Keperawatan Jiwa yang merupakan salah satu persyaratan akademik.
           Dalam penyusunan tugas kami berusaha semaksimal mungkin namun kemampuan kami  sangat terbatas, sehingga penyusunan tugas ini jauh dari sempurna, dan kami menyadari akan segala kekurangan dalam penyusunan tugas ini. Kami  mengharap kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan tugas makalah ini.


                                                                                Bandung,  16 Mei 2013



                                                                                             Penulis






DAFTAR  ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………...
DAFTAR ISI………………………….………………………………………..
BAB I : PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang…………………………………………………....
B.  Identifikasi Masalah………………………………………………
C.  Tujuan…………………………………………………………….
BAB II  : ISI
1.   ISOLASI SOSIAL
a.   Pengertian………………………………………………………..
b.   Etiologi Isolasi Sosial……………………………………………        
c.   Faktor predisposisi Isolasi Sosial………………………………..
d.   Faktor prespitasi Isolasi Sosial………………………………….
e.   Tanda dan gejala Isolasi Sosial………………………………….
f.    Rentang Respon Isolasi Sosial………………………………….
g.   Asuhan Keperawatan Isolasi Sosial…………………………….
BAB III : PENUTUP
A.     Simpulan dan Saran…………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA  



BAB I
PENDAHULUAN

      A.    Latar Belakang

Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gagasan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptive da mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial.
Menurut Balitbang (2007), merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagai rasa, pikiran dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup berbagai pengalaman.
Isolasi sosial adalah salah satu gangguan jiwa yang banyak terjadi di masyarakat yang disebabkan oleh beberapa faktor. Maka dari itu perlu kita ketahui lebih dalam tentang apa itu gangguan jiwa pada isolasi sosial, dan bagaimana penanganannya.

B.     Identifikasi Masalah

1.)    Definisi isolasi sosial
2.)    Apa etiologi isolasi sosial
3.)    Apa itu faktor predisposisi isolasi sosial
4.)    Apa itu faktor presipitasi
5.)    Apa itu tanda dan gejala isolasi sosial
6.)    Bagaimana rentang respon isolasi sosial
7.)    Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien isolasi sosial

C.    Tujuan Penyusunan Makalah
Adapun maksud dari penyusunan makalah ini agar kita dapat mengetahui apa itu isolasi sosial.

Adapun kegunaan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      Diharapkan dapat berguna bagi penulis sendiri dan bermanfaat serta menjadi pedoman bagi penulis lain yang berminat menyusun makalah dengan tema yang sama.
2)      Sebagai sumbangan pemikiran atau bahan masukan khususnya bagi mata kuliah terkait.



BAB II
ISI
1.Asuhan keperawatan Isolasi Sosial
a.  Pengertian
-          Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi sosial merupakan suatu gagasan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptive da mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial.
-          Menurut Balitbang (2007), merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagai rasa, pikiran dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian, dan tidak sanggup berbagai pengalaman.
-          Menurut Stuart dan Sundeen (1998), kerusakan interaksi sosial adalah satu gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkat maladaptive, dan mengganggu fungsi individu dalam hubungan sosialnya.
-          Menurut Townsend (1998), kerusakan interaksi sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan kualitas yang tidak efektif. Klien yang mengalamai kerusakan interaksi sosial  mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain salah satunya mengarah pada menarik diri.
-          Menurut Rawlins, 1993 dikutip Keliat (2001), menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.

b.   Etiologi
    Terjadinya gangguan ini dipengaruhi oleh factor presdiposisi diantaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya pada orang lain, ragu, takut salah, pesimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan. Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri, menghindar diri dari orang lain, dan kegiatan sehari-hari terabaikan.
c.   Faktor Predisposisi
1. Faktor Tumbuh Kembang
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial.
Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak dipenuhi maka akan menghambat fase perkembangan sosial yang nantinya akan dapat menimbulkan masalah.
Tahapan perkembangan
Tugas
Masa bayi
Menetapkan rasa percaya
Masa bermain
Mengembangkan otonomi dan awal perilaku mandiri
Masa pra sekolah
Belajar menunjukkan inisiatif, rasa tanggung jawab dan hati nurani
Masa sekolah
Belajar berkompetisi, bekerjasama dan berkompromi
Masa pra remaja
Menjalin hubungan intim dengan teman sesama jenis kelamin
Masa remaja
Menjadi intim dengan teman lawaan jenis atau bergantung
Masa dewasa muda
Menjadi saling bergantung antara orang tua dan teman mencari pasangan menikah dan mempunyai anak
Masa tengah baya
Belajar menerima hasil kehidupan yang sudah di lalui
Masa dewasa tua
Berduka karena kehilangan dan mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya
Sumber: Stuart dan Sundeen (1995), hlm. 346 dikutip dalam fitria (2009)
2. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga
Ganguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi sehingga menimbulkan ketidakjelasan (Double bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan di luar krluarga.
3. Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Hal ini di sebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, diamana setiap anggota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis, dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
4. Faktor Biologis
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan dalam hubungan sosial adalah otak, misalnya pada klien skizofrenia yang mengalami masalah dalam hubungan sosial memiliki struktur yang abnormal pada otak seperti atropi otak, serta perhubungan ukuran dan bentuk sel-sel dalam limbic dan daerah kortikal.
d.   Faktor Presipitasi
terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat di timbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat di kelompokan sebagai berikut:
1.    Faktor Eksternal
Contohnya adalah stressor soaial budaya, yaitu stree yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya seperti keluarga.

2.    Faktor Internal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu sress terjadi akibat anxietas atau kecemasan yang berkepanjangan dan terjadinya bersama dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Anxietas ini dapat terjadi akibat tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.

e.        Tanda dan gejala
1.      Menyendiri dalam ruangan
2.      Tidak berkomunikasi, menarik diri, tidak melakukan kontak mata
3.      Sedih, afek datar
4.      Berpikir menurut pikirannya sendiri, tindakan berulang dan tidak bermakna
5.      Perhatian dan tindakan yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya
6.      Mengekpresikan penolakan atau kesepian terhadap orang lain
7.      Tidak ada asosiasi antara ide satu dengan lainnya
8.      Menggunakan kata-kata simbolik
9.      Menggunakan kata yang tidak berarti
10.  Kontak mata kurang
11.  Klien cenderung menarik diri dari lingkungan pergaulan, suka melamun dan berdiam diri


f.        Rentang respon
         a. Respon adaptif
   Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut masih dalam batas normal ketika menyelesaikan masalah. Sikap yang termasuk dalam respon adaptif antara lain : menyendiri/respon dalam merenungkan apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya, otonomi/kemampuan dalam menentukan dan menyampaikan ide dan pikiran serta perasaan, bekerja sama/kemampuan saling membutuhkan, dan interdependen/saling ketergantungan dalam hubungan interpersonal.

         b. Respon maladaptif
        Respon maladaptif adalah respon yang menyimpang dari norma sosial dan kehidupan di suatu tempat. Yang termasuk perilaku respon maladaptif antara lain : Menarik diri (mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain), ketergantungan (gagal mengembangkan  rasa percaya diri sehingga tergantung dengan orang lain), manipulasi (mengganggu orang lain sebagai objek individu sehingga tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam), dan curiga (gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain).


Asuhan Keperawatan Pada Klien Isolasi Sosial

    Diagnosa Keperawatan : Isolasi Sosial
    Rencana tindakan keperawatan
Tujuan
Kriteria evaluasi
Intervensi
Pasien mampu :
Ø  Menyadari penyebab isolasi sosial
Ø  Berinteraksi dengan orang lain
Setelah ... x pertemuan, pasien mampu :
Ø  Membina hubungan saling percaya
Ø  Menyaadari penyebab isolasi sosial, keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
   Ø  Melakukan interaksi dengan orang lain secara bertahap
SP 1
 Identifikasi penyebab
  Ø  Siapa yang satu rumah dengan pasien
  Ø  Siapa yang dekat dengan pasien
  Ø  Siapa yang tidak dekat dengan pasien
Tanyakan keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
  Ø  Tanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain
  Ø  Tanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain
  Ø   Diskusikan keuntungan bila pasien memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka
   Ø  Diskusikan kerugian bila pasien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain
   Ø  Jelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik pasien .
 Latih berkenalan :
    Ø  Jelaskan kepada klien cara berinteaksi dengan orang lain
    Ø  Berikan contoh cara berinteraksi dengan orang lain
    Ø  Beri kesempatan pasien mempraktekan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan dihadapan perawat
    Ø  Mulailah bantu pasien berinteraksi dengan satu orang teman / anggota keluarga
    Ø  Bila pasien sudah menunjukan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan 2, 3, 4 orang dan seterusnya
    Ø  Beri pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh pasien
    Ø  Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang lain, mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya, beri dorongan terus menerus agar pasien tetap semangat meningkatkan interaksinya
Masukan jadwal kegiatan pasien



SP 2
  Ø  Evaluasi kegiatan yang lalu ( SP 1)
  Ø  Latih berhubungan dengan sosial secara bertahap
  Ø  Masukan dalam jadwal kegiatan pasien



SP 3
  Ø  Evaluasi kegiatan yang lalu ( SP 2 )
  Ø  Latih cara berkenalan dengan 2 orang atau lebih
  Ø  Masukan dalam jadwal kegiatan pasien
Keluarga mampu merawat pasien dengan isolasi sosial dirumah
Setelah . . .  x pertemuan, keluarga mampu menjelaskan tentang :
Ø  Masalah isolasi sosial dan dampaknya pada pasien
Ø  Penyebab isolasi sosial
Ø  Sikap keluarga untuk membantu pasien mengatasiisolasi sosialnya
Ø  Pengobatan yang berkelanjutan dan mencegah putus obat
Ø  Tempat rujukan dan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien
SP 1
   Ø  Identifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat pasien
   Ø  Penjelasan isolasi sosial
   Ø  Cara merawat pasien isolasi sosial
   Ø  Latih ( simulasi )
   Ø  RTL kelaurga / jadwal keluarga untuk merawat pasien


SP 2
 Ø  Evaluasi kemampuan SP 1\
 Ø  Latih ( langsung ke pasien )
 Ø  RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat pasien


SP 3
 Ø  Evaluasi kemampuan SP 1
 Ø  Latih ( langsung ke pasien )
 Ø  RTL keluarga / jadwal keluarga untuk merawat pasien


SP 4
 Ø  Evaluasi kemampuaan keluarga
 Ø  Evaluasi kemampuan pasien
 Ø  Rencana tindak lanjut keluarga
-          Follow up
-          rujukan



                                                           BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
      Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu mengalami penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Klien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun komunikasi dengan orang lain.

B.     Saran
Adapun saran yang penulis berikan agar tercapai kesehatan jiwa optimal adalah :
1. Diharapkan pada keluarga klien apabila sudah pulang maka keluarga tetap melakukan kontrol ke RSJ.
2. Diharapkan adanya kerja sama dengan baik antara dokter, perawat dan tim medis lainnya guna memperlancar proses keperawatan.
3. Diharapakan kepala keluarga harus sering mengunjungi klien ke RSJ karena dapa membantu proses penyembuhan.


DAFTAR PUSTAKA

Direja, A .2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Nuha medika : Yogyakarta
Kusumawati, farida, 2010.Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Salemba Medika : Jakarta
Yosep, iyus. 2009. Keperawatan jiwa , Refrika Aditama : Bandung  
Dalami,Ermawati. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. Cv.Trans info Media: Jakarta
http://margakuciptaaskepjiwaisos.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar